2 Mutasi Omicron Dapat Menyebabkan Gelombang Baru Covid-19 di cina

2 Mutasi Omicron Dapat Menyebabkan Gelombang Baru Covid-19 di cina
2 Mutasi Omicron Dapat Menyebabkan Gelombang Baru Covid-19 di cina

Jakarta, CNN Indonesia — cina diprediksi akan kembali mengalami gelombang baru Covid-19 setelah varian Omicron bermutasi menjadi subvarian XBB 1.5 dan BQ 1.1. Mutasi tersebut menyebabkan varian menyebar lebih cepat dan resisten terhadap vaksin.
“cina kemungkinan besar akan mengikuti trend dan mengulangi gelombang infeksi ulang yang sudah terjadi di belahan dunia lain,” kata ahli virologi Shan-Lu Liu dari Ohio State universitas seperti dikutip South cina Morning Post.

Di sebagian besar dunia, infeksi ulang sudah menjadi hal biasa dengan tiga dari empat puncak infeksi pada tahun 2022. Sejauh ini, para ahli masih belum memahami bahwa infeksi ulang terjadi pada orang yang sudah sembuh dari Covid-19.

Dalam sebuah studi oleh Universitas Peking, para ahli memeriksa 6,6 juta kasus dari seluruh dunia. Mereka menemukan rata-rata tingkat infeksi ulang COVID-19 pra-Omicron adalah sekitar 2 persen.

tetapi Omicron adalah varian yang lebih mudah menular. Akibatnya, para ahli memperkirakan, tingkat infeksi ulang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Sejauh ini, subvarian Omicon yang paling dominan adalah BA.5.2 dan BF.7. Namun, dua subvarian lainnya, yakni BQ.1.1 dan XBB 1.5, telah beredar di Amerika Serikat dan Eropa dalam dua bulan terakhir.

Subvarian baru bernama XBB.1.5 telah menyebar dengan cepat di beberapa negara bagian AS seperti New York. Di sana, subvarian tersebut menyebabkan 40 persen dari total kasus Covid-19 yang ada menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

“XBB.1.5 adalah salah satu invasif yang paling menular dan kebal yang kita ketahui sejauh ini,” kata ahli biokimia Universitas Peking Cao Yunlong.

“Bisa diprediksi setelah puncak gelombang di cina, XBB bisa masuk ke sana untuk memicu gelombang baru berskala besar,” imbuhnya.

“Dalam waktu dua minggu, subvarian ini mengalahkan BQ.1.1 untuk menjadi subvarian dominan di New York. Karena XBB.1.5 mungkin yang paling dominan di tingkat global, kita harus memperhatikannya dengan baik,” kata Cao lagi.

Cao mengatakan cina telah berjuang untuk menghindari sejumlah besar kasus infeksi ulang sejak melonggarkan kebijakan nol-Covid Desember lalu. Menurut data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit cina (CDC cina), ada 14 kematian akibat COVID-19 dari 1 hingga 29 Desember.

Angka tersebut menjadikan total kematian akibat Covid-19 secara nasional di cina menjadi 5.247 sejak pandemi dimulai. “Pada titik ini, tampaknya sulit untuk mencegah situasi seperti itu (infeksi ulang) terjadi di cina,” kata Cao.

Di sisi lain, mengutip New York Times, para ahli kesulitan mengakses informasi detail mengenai perkembangan kasus Covid-19 di cina. Pasalnya, pemerintah cina tidak transparan soal data terkait pandemi.

Di Hong Kong, tim ahli harus mengakses data penumpang dari lima kereta bawah tanah di Beijing untuk mengetahui potensi penyebarannya.

Di Seattle, AS, sekelompok investor mencoba merekayasa balik informasi yang bocor dari pemerintah tetapi belum diverifikasi. Di Inggris, para ilmuwan mencoba memperkirakan kemanjuran vaksin cina sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *